Total Tayangan Halaman

Sabtu, 03 Juni 2017

Mereka Adalah Para Shahabat, Kisah-Kisah Manusia Pilihan Dari Generasi Terbaik Umat Muhammad Saw.





Judul                 : Mereka Adalah Para Shahabat, Kisah-Kisah Manusia Pilihan Dari Generasi Terbaik Umat Muhammad Saw.
Judul Asli           : Shuwaru min Hayatish Shahabah

Penulis              : Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya

Alih Bahasa        : Izzudin Karimi

Penerbit             : At-Tibyan

Cetakan             : XI, Januari 2015

Halaman            : 420

ISBN                 : 978-979-1189-65-1


Yang melatar belakang saya membeli buku ini adalah, ketika suatu hari saya mendengar ceramah Ust. Bachtiar Nasir yang bercerita tentang seorang Tabiin, dengan buku/kitab referensi Shuwaruu min Hayati at-Tabiin. Langsung deh searching ketersediaan bukunya dalam bahasa Indonesia, Alhamdulillah ketemu dua buah buku, “Mereka Adalah Para Sahabat” (Shuwaruu min Hayatish Shahabah), dan “Mereka Adalah Para Tabiin” (Shuwaruu min Hayati at Tabiin).



Kali ini kita kulik buku “Mereka Adalah Para Sahabat” dulu ya


Hal yang terbayang ketika harus membaca buku sejarah yang tebal adalah membosankan, berat, rumit, dan capek membacanya, tetapi Alhamdulillah ketika membaca buku ini hal-hal yang tidak mengenakkan tersebut hilang, siapa sangka baca buku ini bisa membuat mata melek sampai pkl. 01.30 dini hari, kok bisa?;

  • Kisahnya seru, dilengkapi catatan kaki buku rujukan bagi yang ingin menambah wawasan.

  • Bahasanya sangat mudah untuk difahami, dalam Muqadimahnya disebutkan bahwa buku ini ditulis untuk anak-anak muda dari usia SMP, SMA, dan tetap menarik untuk dibaca oleh khalayak umum dengan tingkat ilmu pengetahuan yang berbeda-beda.

  • Terdiri dari 65 potret kehidupan para sahabat yang mulia, dengan kisah yang tidak berbelit-belit dan tidak membuatmu perlu mengerenyitkan dahi, juga tidak sampai merasa lelah karena kisahnya tidak terlau panjang.

  • Lembar kertasnya putih (HVS), dan font-nya juga oke. Semangat deh bacanya…



Sebagai seorang muslim yang mencintai Rasulullah Saw, kita pasti sangat ingin tahu isi buku ini, ya… kisah orang-orang yang mencintai Rasulullah Saw., mereka yang pernah berinteraksi atau  bertemu langsung dengan beliau, dimana banyak dari mereka adalah figur-figur muda yang dalam perjumpaannya dengan Islam, dalam men-Tauhid-kan Allah dan menerima keRasul-an Muhammad Saw. bukanlah hal mudah, butuh perjuangan, pengorbanan, melalui jalan yang terjal dan berliku, menyisakan kisah heroik dan keteladanan dalam mencari, dan mempertahankan kebenaran yang diyakininya, yaitu Iman. Dan pantaslah mereka mendapatkan do’a-do’a yang langsung keluar dari bibir Rasulullah Saw.  Dan pantaslah kisah-kisah mereka di abadikan sebagai Inspiring Power dari generasi terbaik sepanjang masa.

 
Sekilas kisah-kisah para sahabat 



Gubernur yang dikeluhkan masyarakatnya (Hal. 23-24)


Terdapat seorang gubernur miskin, Said bin Amir, yang dikeluhkan oleh masyarakatnya kepada khalifah Umar bin al-Khatthab ra. karena empat sikapnya, yaitu :

  1. Dia tidak keluar kepada kami kecuali ketika siang sudah naik 
  2. Dia tidak menerima seorangpun di malam hari 
  3. Dia tidak keluar kepada kami satu hari dalam sebulan  
  4. Terkadang ia jatuh pingsan sehingga tidak ingat terhadap orang-orang di sekitarnya.

(Ternyata ada juga ya kasus gubernur yang dikeluhkan oleh masyarakatnya…, atau bisa jadi karakter masyarakatnya yang memang suka mengeluh…?)



Dakwah = Seruan, do’a dan sikap lemah lembut (Hal. 29-30)


Ketika Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi mengalami kesulitan mengajak kaumnya (Daus), yang tidak bersegera menyambut seruan dakwahnya, ia dan Abu Hurairah datang kepada Rasulullah Saw. 
Dan Nabi bersabda, “Hati kaummu masih tertutupi sekat tebal dan kekufuran yang keras. Orang-orang Daus telah dikuasai oleh kefasikan dan kemaksiatan.”

(Yang terlintas di benakku adalah kesedihan Ath-Thufail mendengar kenyataan keadaan kaumnya yang bebal melalui perkataan langsung dari Rasulullah)

Lalu Rasulullah Saw. Berwudhu, mengerjakan shalat, dan mengangkat kedua tangannya, berdo’a.

Abu Hurairah berkata, “Manakala aku melihat beliau melakukan itu, aku takut beliau berdo’a buruk atas kaumku, akibatnya mereka akan binasa. Maka aku berkata, ‘Celaka kaumku.”

Tetapi Rasulullah Saw. Bersabda, “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada Daus. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada Daus. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada Daus.”

Kemudian beliau menoleh kepada Ath-Thufail dan berkata, “Pulanglah kepada mereka, serulah mereka kepada Islam dengan lemah lembut.”


(Hikmah yang bisa di petik dari kisah ini adalah  Dakwah = Seruan, do’a dan sikap lemah lembut, terutama menjadi tuntunan ketika harus menghadapi orang-orang dengan keadaan seperti kaum Daus tersebut diatas, dan menjadi introspeksi diri sendiri, yang mungkin saja tanpa di sadari memiliki keadaan yang sama dengan kaum tersebut (kadar bisa berbeda), dan tanpa di sadari pula ada orang yang dengan tulus sedang mendo’akan kita…)



Wasiat setelah kematian (Hal. 358)


Tidak pernah ada sebelumnya dan tidak akan pernah ada sesudahnya bahwa wasiat seseorang dilaksanakan sesudah kematian orang tersebut, dialah Tsabit bin Qais.



Warisan Rasulullah (Hal. 367-368)


Sebagaimana Abu Hurairah menyintai ilmu untuk dirinya, dia juga menyintai ilmu untuk orang lain. Suatu hari Abu Hurairah masuk ke pasar Madinah, dia terkejut melihat kesibukan orang banyak, mereka tenggelam dalam perniagaan jual beli, menerima dan memberi, maka dia mendekat dan berdiri di hadapan mereka, dia berkata, “Betapa lemahnya kalian wahai penduduk Madinah.”

Mereka bertanya, “Apa kelemahan kami yang engkau ketahui wahai Abu Hurairah?”

Abu Hurairah berkata, “Warisan Rasulullah Saw. Dibagi namun kalian tetap di sini? Mengapa kalian tidak berangkat dan mengambil bagian kalian darinya?”

Mereka bertanya, “Dimana wahai Abu Hurairah?”

Abu Hurairah menjawab, “Masjid”.

Maka orang banyakpun bergegas keluar dari pasa sementara Abu Hurairah tetap berdiri ditempatnya sampai mereka kembali, manakala mereka melihat Abu Hurairah, mereka berkata, “Wahai Abu Hurairah, kami telah masuk masjid dan kami tidak melihat apapun di sana.”

Abu Hurairah balik bertanya, “Apakah kalian tidak melihat orang banyak di masjid?”

Mereka menjawab, “Kami melihat, sekelompok orang sedang sholat, sekelompok orang sedang membaca Al-Qur’an, dan sekelompok orang belajar halal dan haram.”

Abu Hurairah berkata, “Celaka kalian, itulah warisan Muhammad Saw.”
(Wah... Ada warisan yang Rasuullah bagikan, tetapi warisan itu tidak hadir begitu saja, tetapi harus dicari...)


Baca buku ini jadi tau siapa muslim pertama yang masuk  Makkah dengan bertalbiyah, siapa panglima pertama dalam perang pertama dalam Islam, siapa yang syahid pertama dalam islam, siapa yang pertama kali mengucap salam Islam kepada Rasulullah Saw., “Assalamu’alaika ya Rasulullah”, dan setelahnya salam tersebut menyebar dan digunakan diantara kaum muslimin. Dan banyak hal lagi yang akan kita ketahui.


Kesimpulannya… buku ini perlu melengkapi perpustakaan kalian, menjadi referensi untuk kembali dikisahkan ke teman, adik-adik, atau saudara lainnya. Bangga (syukur) saya bisa memiliki dan membaca buku ini, dan saya ingin kalian juga membacanya… 


Selamat menikmati membaca.

Rate : 5/5









Selasa, 23 Mei 2017

Rebecca of Sunnybrook Farm

Foto Siti Hamidah.

Judul                    : Rebecca of Sunnybrook Farm
Judul Asli              : Rebecca of Sunnybrook Farm
Karya                   : Kate Douglas Wiggin (Copyright @ 1903)
Alih Bahasa           : Hani Iskadarwati
Penerbit                : Orange Books
Cetakan                : Pertama, Februari 2011
Halaman               : 310
ISBN                    : 978-602-843-685-4

 
Sinopsis

Keadaan memaksa Rebecca meninggalkan Sunnybrook Farm, tempatnya dibesarkan bersama keenam putra-putri keluarga Randall yg lain. Ia mengerahkan keberanian utk tinggal dengan keluarga Sawyer, bukan saja karena yang sebenarnya diminta pergi ke Riverboro adalah Hannah, sang kakak, tapi juga ketidaksukaan keluarga Sawyer kepada almarhum ayahnya. 

Rebecca harus beradaptasi dengan cara dididik kedua bibinya yadan keras, sekaligus harus membuat seluruh keluarga bangga akan prestasi & perilakunya sehari-hari. Bagaimana Rebecca mengatasi rindu rumah? Apakah ia dapat bertahan di Reverboro dan menerapkan cara didik kedua bibinya? Dan siapakah Mr. Aladdin yg telah "mencuri" hati Rebecca? 

Kisah perjuangan seorang gadis cilik dalam terpaan persoalan hidup yg mengundang kontemplasi, rasa haru, dan tawa riang.
                                              
                                                     _ _ _


Assalamu'alaikum Wr. Wb. Sahabat buku...
Kali ini saya ingin post review sebuah buku ringan yang termasuk buku klasik, buku ini telah di cetak ulang dengan berbagai cover, dan aku menyukai beberapa cover cute berikut :


 
Hanya saja untuk cover buku yang saya baca ini, terasa kurang ‘wah’ tidak mencerminkan kecantikan isinya.

Banyak nama panggilan
Catatan Penyunting yang perlu menjadi perhatian adalah, sebagai fiksi klasik penulis kerap bertindak sebagai narator, kendati tidak menggunakan sudut pandang ‘Aku’. Ia berbicara kepada pembaca yang berbeda-beda, kadang yang sebaya Rebecca, kadang orang yang jauh lebih dewasa. Dan untuk menghindari kebingungan pembaca, diingatkan adanya kebiasaan lama masyarakat menggunakan berbagai nama kecil. Misalnya Mr. Cobb, nama aslinya Jeremiah Cobb, istrinya memanggil Jeremiah, dan paman Jerry ketika bersama Rebecca. Akan ada banyak nama yang dijumpai, dan ini salah satu kelemahanku, yaitu mengingat nama, jadi ingat salah satu review-ku pada kisah klasik juga, Treasure Island , terlalu banyak nama.

Contoh :

Pada akhir Bab 9, Abu Mawar, hal. 91
“Kemarilah, duduk di sisiku dan ceritakan padaku semuanya,” bujuk Paman Jerry. “Duduklah di situ, yang ada jangkriknya.”
Rebecca menyandarkan kepala yang sakit di lutut Mr. Cobb dan menceritakan masalahnya tanpa dilebih-lebihkan.
Ingat, Paman Jerry sama dengan Mr. Cobb. Piyuuuh… 

Rebecca yang bersemangat
Ayahanda Rebecca telah tiada, keluarga Rebecca yang miskin hidup bersama ibu dan tujuh saudaranya, terbiasa hidup dengan keterbatasan di lahan pertanian.Rebecca sangat suka membaca, bersajak dan menulis. Dia dapat diandalkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum tentu dapat dilakukan oleh anak seusianya, ya… dia terbiasa bekerja.


Pribadi yang cantik
Rebecca yang baik hati, memiliki kepedulian, dan ringan tangan, menghantarkannya pada perjumpaan dengan ‘Mr. Aladdin’, dan semua diawali dari Lampu ‘Ajaib’ untuk keluarga Simpson. Dan Rebecca mendapatkan kejutan-kejutan kebahagiaan, yang tanpa ia sadari, ada orang-orang yang peduli pada bakat alam-nya, dan menganggapnya bagaikan mutiara yang indah.

Ilustrasi hutang yang mencekik
Hutang pembelian rumah di lahan itu menjadi beban, terasa kejam karena bunganya, dan menjadi momok bagi Rebecca. Ia mengilustrasikan pinjaman dengan riba tersebut sebagai berikut:
Sebuah rumah kecil di sebelah kanan, dan sebuah keluarga yang menangis berkumpul didepannya. Cicilan digambarkan sebagai campuran iblis dan raksasa pemakan manusia, memegang kapak di tangan kanan, yang berwarna merah. H. 219-220

Mr. Aladdin
Menurutku, tokoh Mr. Aladdin adalah jawaban atas sebagian besar permasalahan-permasalahan Rebecca, tetapi ia membantu dari belakang layar, tidak langsung. Walaupun akhirnya Rebecca dan keluarganya dapat melalui masa-masa sulit, dan mengatasi masalahnya sendiri dengan hal yang tidak pernah ia duga. Namun, bersama Mr. Aladdin-lah yang ia yakin menjanjikan cerah masa depan hidupnya. Yeeey…

Istilah di buku ini yang perlu kamu tahu :
Kain Gingham, yaitu kain corak kotak-kotak
Payung parasol, yaitu payung yang digunakan untuk menahan panas matahari (tampak pada beberapa cover buku)
Decalcomania, yaitu teknik memindahkan gambar atau lukisan ke media yng lain. Misalnya kain.
  
Hal yang menurutku menarik

Tidak setuju dengan kelas sekolah yang bercampur baur antara laki-laki dan wanita. 
“Miss Maxwell,” kata Adam, “Aku pemegang saham di sekolah ini, namun aku tak mendukung sekolah bercampur antara anak lelaki dan perempuan!” h. 225

Keindahan alami, lahir dari banyak tempaan. 
“Lihatlah kerikil di dasar kolam Miss Emily, begitu bulat dan mulus serta bercahaya.”
“Ya, tapi dimanakah mereka mendapatkan polesan yang indah, kulit sehalus satin, bentuk yang cantik Rebecca? Bukan, bukan dikolam yang tenang di atas pasir. Semua itu berlangsung ditengah pergelutan dan perjuangan di dalam arus deras. Mereka berbenturan, terpelanting ke batu cadas, dan sekarang kita melihat dan mengatakan bahwa mereka indah.” H. 230-231.

Perpustakaan sekolah juga mengkoleksi buku fiksi, dengan catatan pembaca terbatas. 
Di perpustakaan sekolah, buku-buku fiksi bisa di baca oleh guru dan khalayak umum, namun terlarang untuk siswa. H. 227

Yap… itulah corat-coret saya tentang buku ini, ada kebaikan bertebaran yang sifatnya universal, dan itu adalah fitrah manusia. Yuk ikut berpartisipasi dalam menyebar kebaikan...

Eh iya... ada satu hal ganjil menurutku, yaitu gadis kecil di cover buku ini, sama sekali tidak sesuai dengan karakter Rebecca, yang berambut gelap dan bermata gelap. kok bisa ya...

Selamat membaca

Rate : 3/5

- - -